Feeds:
Pos
Komentar

Saat senja mengharuskan Beliau pergi dan gelap menggantikan sinar senja hangat ini.
Semangat yang selalu ada, menunjukan bahwa senja tidak melunturkan keinginannya untuk menyenangkan TUhannya.
Tetap bersinar meski saat redup, saat sumbu sedang menghembuskan asap-asap terakhir.
Sosok wibawa, bijaksana, lembut namun tegas membuat aku angkat topi untuk beliau.
Sekarang, hangatnya sudah tak terasa, fisiknya tak dapat kusentuh dan tutur katanya tak dapat kudengar, namun semuanya tetap terpatri dihatiku.

” Yaya anakku.. perbuatlah semua untuk Tuhan dan bukan untuk manusia maka kamu akan selalu mendapat berkat dari semua apa yang kamu lakukan itu Nak!” Yaya akan selalu ingat…

Untuk Bapak rohani kami, isitirahat dengan tenang pak. Meski kami merasa berat dan tak kuasa, tapi kami tau ini yang terbaik untuk kami dan untuk Bapak. Terima kasih untuk warisan indah untuk kami, engkau membuat kami tetap merasa kuat meski teraniaya dan tersia-sia. Semua lelah dan usaha bapak tidak akan pernah sia-sia Pak, karena seperti kata Bapak kita punya Tuhan yang kaya dan penuh kasih.

Kehormatan bagi kami karena Bapa mengutus Bapak untuk menggembalakan kami, dan memberkati kami saat orang tua kami melepas kami untuk hidup berdua. Selamat jalan bapak, kita akan bertemu di udara bila saatnya telah tiba

Ingin Pulang

Serpihan-serpihan kata bertebaran, hasrat hati menyatukan serakan itu dan mengaitkannya satu dengan yang lain. Membersihkan rumah yang sudah penuh dengan lumut dan sarang laba-laba.

Aku ingin pulang…

Sebentar lagi… Waktu yang selalu aku tunggu umtuk pulang kian mendekat. Aku rindu rumahku, tempat aku menyisipkan curahan hatiku, tempat aku bertumbuh melalui kata-kata dan tempat aku bersosialisasi dengan yang lain…

Aku ingin pulang…

Selamat Idul Fitri

Lama tak tampak banyak salah yang tak termaafkan
banyak silahturahmi yang terputus
banyak kata yang tak tersampaikan
saat hari suci ini tiba biarlah Cahaya mengucapkan

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Biarlah kita kembali suci dan hari-hari yang kita lalui dapat menjadi saluran berkat untuk orang lain di sekeliling kita. AMIN

Tentang kasih

“ Mas, tanggal 1 sudah mulai pendaftaran siswa baru. Mam ini masih sakit. Coba adik dirumah ya mas?” kataku pada mas setelah membaca sebuah pesan singkat dari saudaraku.
“ Mas, misal adik pulang dulu bantu Mam boleh?”

“ Pendaftaran sampai kapan dik?”

“ Adik kurang tau, tapi ini Mam sakit dan adik gak tega kalau membayangkan Mam harus antar muter-muter.”

“ Adik mau pulang kapan?”

“ Mungkin selasa, kan pendaftaran mulai hari rabu. Boleh??”

“ Boleh…” Mas menganggukkan kepala tanda setuju.

“ Aaahh bener? Adik boleh pulang sendiri?”

“Iya naik bus, dan jangan balik sebelum Mas jemput.”

“ Uhmm…kalau semua sudah selesai dan pengumuman adik akan pulang kok. Paling Cuma 1 minggu.”

“ Gak usah nanti adik capek bolak-balik dalam waktu dekat. Mending dua minggu sekalian. Pokoknya baliknya setelah mas jemput. Gak boleh pulang kalau balik sendiri besuk.”

“Whaaaa….sayang…terima kasih ya”

“ iya…”

“ Terima kasih untuk semuanya ya sayang, perhatiannya, cintanya, kasihnya, tenaganya, pikirannya, semuanya yang sudah Mas kasih buat adik. Maaf kalau adik selama ini tidak punya apa-apa untuk adik kasih ke Mas”

“ssttt…siapa bilang adik gak pernah kasih apa-apa buat Mas???Pokoknya ingat ya adik adalah satu-satunya kebahagiaan yang mas miliki, Cuma adik” Aku merasakan kecupan hangat dikeningku.

Tak terasa mataku basah, tumpah dipipi dan menyeruak dihati sebagai rasa syukurku kepada Tuhan yang sudah menganugrahkan seseorang yang hebat untukku. Senangnya apabila pasangan kita disayang dan menyayangi keluarga kita.

“ Mas adik jatuh cinta lagi…”

“hah?? sama siapa??”

“ Sama mas hahahaha”

Yah memang aku jatuh cinta lagi, ada saja yang membuatku jatuh cinta setiap harinya.
Yang aku tau cinta itu indah. Kalau cinta itu adalah sebuah kesalahan dan mati hukumnya, pasti aku akan mati.
Dan kalau cinta itu Anggur, aku pasti sudah mabuk karenanya….

“ Ini tehnya Mas!” Setelah mengecup punggung tangan Mas, dan dibalas sebuah kecupan di keningku sesaat Mas pulang kantor.

“ Terima kasih dik…Ngapain aja tadi seharian dirumah dik?”

“ Biasa, nonton tivi, bobok, makan…” jawabku sambil nyengir.

Terkadang aku menutupi rasa kesepianku di rumah dari mas. Satu bulan ngerong di rumah tanpa berinteraksi dengan orang lain membuatku menjadi manusia purba. Rasa kangen rumah, terman-teman, pekerjaan dan aktivitasku yang berjibun membuatku stress. Dan satu-satunya obat mujarabku adalah saat Mas pulang, kami bercerita kegiatan kami seharian sambil minum teh, yang terkadang diselingi keisenganku menghabiskan teh yang aku buatkan untuk Mas.
Lanjut Baca »

Nol

Kosong

Titik

Tanpa koma

Tapi aku tetap tidak mau mengkhirinya

Aku akan mencoba menyatukan serakan-serakan itu

Mengumpulkan rumusan-rumusan

molekul-molekul yang ada diotakku dan membentuk barisan kata yang lama tak ku rajut.

INGSEYFS0256” Mas, nanti kita pulangnya agak sorean ya. Kita besuk mas Tio dulu, di rumah sakit di daerah Karang anyar.” Kataku pada mas saat aku di jemput dari kantor pada hari sabtu sambil naik ke boncengan. (Manja sedikit gak papa dong, yang biasanya PP sendiri ini diatar jemput🙂 ). Sabtu ini kami berencana ke rumah Bapak dan Ibu jadi bisa Ibadah di Gereja Mas bersama-sama.

“Memangnya mas Tio kenapa dik?”

“Loh adik belum cerita ya? Mas Tio kecelakaan kemarin”

“Ooohh…waktu adik tanya tentang daerah di Karang anyar itu ya?” Kata mas, sambil tangannya membuka kaca helm.

“He’eh, Mas tau kan tempatnya?”

“Gak”

“Walah…Ya sudah nanti kita cari aja. Kita berangkat agak sorean. Nanti jam 3 kita siap-siap supaya jam 4 bisa berangkat.”

———————————————————————
Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.