“ Ini tehnya Mas!” Setelah mengecup punggung tangan Mas, dan dibalas sebuah kecupan di keningku sesaat Mas pulang kantor.
“ Terima kasih dik…Ngapain aja tadi seharian dirumah dik?”
“ Biasa, nonton tivi, bobok, makan…” jawabku sambil nyengir.
Terkadang aku menutupi rasa kesepianku di rumah dari mas. Satu bulan ngerong di rumah tanpa berinteraksi dengan orang lain membuatku menjadi manusia purba. Rasa kangen rumah, terman-teman, pekerjaan dan aktivitasku yang berjibun membuatku stress. Dan satu-satunya obat mujarabku adalah saat Mas pulang, kami bercerita kegiatan kami seharian sambil minum teh, yang terkadang diselingi keisenganku menghabiskan teh yang aku buatkan untuk Mas.
Namun kegiatan Mas diluar kantor yang mengurangi kebersamaan kami mulai menjadi kerikil dalam otak dan hatiku. Sebuah hobby yang menyita 2 jam setelah pulang dari kantor selama 4 hari dalam 1 minggu.
Entah setan apa yang merasukiku…
“ Dik, Mas ganti baju dulu ya” sesaat setelah kami membahas seorang yang ikut dalam sebuah acara reality show.
“ Iya…” aku menjawab dengan singkat.
Tanpa aku sadari wajahku menekuk ke bawah, seperti bulan sabit terbalik. Yang biasanya aku dengan penuh semangat menyiapkan setiap keperluan hobby nya berubah dengan penuh semangat secara tidak langsung menentangnya untuk berangkat.
“ Kenapa kok cemberut??”
“ Gak kok, sudah cepet gih berangkat, keburu telat!!”
“ Gak kenapa dulu kok cemberut?”
“ Gak papa…kalau adik bilang gak papa ya gak papa, sudah gih berangkat!!”
“ Kenapa? Adik gak ngasi ijin Mas berangkat?” Tangannya meraih kepalaku dan meletakkan dibahunya.
“ Gak kok…Adik gak pernah melarang Mas. Udah gih berangkat!!” Aku mulai menarik tubuhku dari tempat ternyaman yang saat ini aku miliki.
“ Gak, Mas gak berangkat….uuhhmm…selamanya”
jedeeerrr…aku sudah menduga, pasti begini akhirnya. Mas selalu berhenti melakukan apa yang membuat aku sedih atau tidak suka. Itulah sebabnya aku selalu menunjukkan keceriaanku di depan Mas, meski terkadang aku merasa kesepian dan merutuk olah raga yang merebut waktu mas untuk bersamaku.
Satu jam berlalu tanpa kata, tanpa interaksi. Dan aku tidak tahan dengan suasana seperti itu. Satu-satunya tempat ternyaman yang aku miliki akan menjauh dariku entah sampai kapan.
Aku naik ke atas bed, meraih tangan Mas.
“ Mas, adik tidak pernah melarang Mas untuk melakukan setiap kegiatan Mas kok. Itu kehidupan Mas, hobby, hiburan dan satu lagi kebahagiaan Mas”
“ Gak, kebahagiaan Mas disini Cuma satu, adik.”
“Adik cukup tau sifat Mas…Ok adik akui. Adik mulai bosan dengan kehidupan adik selama satu bulan ini. Adik kepingin kembali ke kehidupan adik sebelumnya. Dan karena kebosanan itu, adik merasa kebersamaan kita begitu penting. Rasa bosan dan tentunya kesepian hilang dari diri adik. Adik bisa tersenyum, bercanda, menjahili Mas dan mengusir semua perasaan tidak enak pada diri adik. Tapi adik gak mau Mas berkorban seperti itu untuk adik, menghentikan setiap kegiatan mas dan mematikan bakat dan hobby Mas. Adik tidak melarang Mas kok! Ini sebabnya adik tidak bicara pada Mas tentang perasaan adik, karena adik yakin Mas akan menyetop semua kegiatan Mas”
“ Gak…Mas gak akan pergi lagi. Tidak Futsal, tidak tenis. Mas gak mau liat adik cemberut dan sedih seperti tadi ” dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.
“ Gak, gak akan lagi, karena mulai besuk adik akan ikut ke lapangan. Adik antar yah. Adik ikut Mas latihan, ya itung-itung refreshing setelah seharian menjaga TV dirumah.” Aku mulai meyakinkan Mas dan menyunggingkan sebuah senyuman manis.
“ Gak….”
Keras kepala kami mulai kambuh, sebelumnya kami sama-sama tidak mau mengalah Mas dengan kegiatannya tanpa tau perasaaku yang sebenarnya dan aku jelas-jelas menentang kegiatan itu akhir-akhir ini. Tapi sekarang kami sama-sama keras bertindak sebaliknya Mas ingin mengakhiri semua kegiatannya tapi aku mendorong untuk mas melanjutkan semua hobbynya.
“ Lhoh…adik kok beli tempat minum??” Setelah melihat tempat minum disamping dispenser saat pulang dari kantor.
“ Iya…tadi adik beli waktu jalan-jalan keluar. Itu buat bekal futsal nanti ” jawabku dengan bibir menyungging.
“ Oohh…Terima kasih ya dik” dan tentunya tempat ternyamanku kembali, yup tepat sekali di dada Mas
Pada saat dilapangan tenis, aku membaca sebuah buku hadiah dari seorang sahabat, kakak dan teman bagiku. Di buku itu ditulis, berduaan terus menerus memang tidak terlalu sehat. Ternyata sebuah kebersamaan, bukan hanya seara fisik kita bersama. Tetapi saat masing- masing pihak diberi cukup kebebasan untuk mengembangkan daya cipta aslinya.
Sebuah bilik perkawinan adalah dimana dua orang berkembang, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan, sehingga terbentuklah seperti apa yang mereka harapkan bersama.
Satu lagi yang penting, dalam ‘kebersamaan’ harus tetap terdapat ‘kesendirian’ untuk masing-masing. Kalau kita cukup memberi peluang untuk ‘menyendiri’ hal itu akan menjadi daya tarik kuat menuju pada sebuah ‘kebersamaan’ yang indah.


hehhe..*iyah dechh.
Salam Takzim
Kebersamaan antigonis kepribadian betul ga sih kebersmaan kan dapat meramaikan pribadi yang sedang minus, dengan kebersamaan pribadi minus dapat terpelihara lho
Salam Takzim Batavusqu
>> duuh Yaya gak ngerti maksudnya hehehe bisa dijelaskan??