” Mas, nanti kita pulangnya agak sorean ya. Kita besuk mas Tio dulu, di rumah sakit di daerah Karang anyar.” Kataku pada mas saat aku di jemput dari kantor pada hari sabtu sambil naik ke boncengan. (Manja sedikit gak papa dong, yang biasanya PP sendiri ini diatar jemput
). Sabtu ini kami berencana ke rumah Bapak dan Ibu jadi bisa Ibadah di Gereja Mas bersama-sama.
“Memangnya mas Tio kenapa dik?”
“Loh adik belum cerita ya? Mas Tio kecelakaan kemarin”
“Ooohh…waktu adik tanya tentang daerah di Karang anyar itu ya?” Kata mas, sambil tangannya membuka kaca helm.
“He’eh, Mas tau kan tempatnya?”
“Gak”
“Walah…Ya sudah nanti kita cari aja. Kita berangkat agak sorean. Nanti jam 3 kita siap-siap supaya jam 4 bisa berangkat.”
———————————————————————
” Dik, jam segini baru selesai mandi. Katanya kita mau berangkat agak sorean. Kita kan belum tau tempatnya. Masih cari-cari, mana hujan lagi.” Tepat saat aku keluar dari kamar mandi dan dengan wajah yang ajubilah cemberutnya.
” Eh…adik sudah mandi. dari pada Mas baru bangun” Setelah sampai rumah tadi, mas ketiduran.
Aku agak santai siap-siap pergi, karena memang saat itu hujan agak deres. Jadi sekalian nunggu hujan tidak perlu terburu-buru.
“Jadi gak sich dik?” Tanya mas, dengan wajah tanpa ekspresi agak manyun malah, tepat saat polesan lipstick terakhir.
Aku malas menanggapi kalau Mas lagi emosi seperti itu. Memang bagi Mas aku terkadang lelet, apalagi kalau urusan mandi. Sembari aku mengeringkan rambutku, aku melihat keluar, sepertinya hujan semakin deras. Waktu berjalan tanpa kata keluar dari mulut kami berdua.
Tapi aku tidak tahan dengan keadaan ini. Mas paling betah diam.
“Mas, mandi gih. Nanti kita kemaleman lho”
Ternyata gak mempan juga. Dia tetap diam dan tak bergeming. Huhhh…sebel.
“Adik gelitikin lho…” Tetep aja diam.
Akhirnya karena gemas sudah memuncak dan aku merasa bersalah sudah membuat Mas marah, aku serang Mas dengan gelitikan-gelitikan dan cubitan-cubitanku.
Dan akhirnya aku melihat sedikit senyum di wajahnya. Pffiiuuhh lega…Gak lucu banget kalau kami pergi ke rumah Bapak dan Ibu serta pamit sama Pap dan Mam dalam kondisi bertengkar.
“Sayang, cepet mandi.”
“Tuch kan kalau orang lain aja disuruh mandi cepet-cepet, giliran adik mandinya lama banget” Gerutu mas sambil menekuk wajah lagi.
“Aahhh…gak kok. Adik mandinya tadi emang agak telat, jam setengah 4 baru adik mandi. Jam 3 tadi adik packing semua keperluan yang kita bawa.”
Melihat Mas ketiduran aku tidak tega untuk membangunkan, jadi aku sedikit melonggarkan waktu keberangkatan supaya Mas bisa tidur lebih lama.
” Jam setengah 4 mandi dan selesai jam setengah 5?” Sepertinya memang cari perkara ini.
Aku melihat jam dinding, ” Jam setengah 5 dari Hongkong? Ini aja baru jam setengah 5 kok”
“Ha?? Sebentar tunggu dik…” Mas mengambil jam tangan Echa yang kebetulan berada di meja kamar kami.
“Ini jam 5 lebih 15 menit”Aku mendengar jawaban mas lagi saat aku menyiapkan pakaian yang akan dikenakan mas.
“Waduh…Jamnya echa itu kan emang lagi error, sebentar hidup, sebentar nyala”
“hehehe…jadi Mas yang salah ya”
“Huuu…makanya jangan emosi dulu yang diutamakan. Dan kalau ada suatu rencana yang pasti kita lakukan tidak perlu ditanyakan lagi.”
“Hehehe…Maaf ya sayang” Mas mendaratkan sebuah kecupan di keningku.
“he’em…Maafin adik juga ya mas sudah buat Mas marah. Ya udah ah aroma jeruknya menguar cepet mandi gih!!!” Mas berangkat mandi sambil mengacak-acak kepalaku.
Pfiuuhh…untung segera dapat diselesaikan. Aku memang tidak suka dan tidak bisa marahan dengan Mas lama-lama. Tersiksa rasanya. Kami memang masih sering mengandalkan ego dan emosi kita masing-masing. Tapi bagaimanapun harus belajar untuk meredamnya. Apalagi ego dan emosi karena kesalahpahaman. Itu hanya akan menyakiti hati kita masing-masing, menyakiti tanpa ada yang merasa bersalah.
Memastikan apa yang akan kita lakukan memang kadang perlu. Tapi sesuatu yang sudah pasti sepertinya tidak perlu dipastikan lagikan kalau hanya untuk memenuhi nafsu ego dan emosi kita. Dan akhirnya keberangkatan kami mundur 1 jam dari rencana jam 4 menjadi jam 5. Tepat saat hujan mulai berhenti.


semakin dewasa
itulah nikmatnya mempunyai pasangan, kesalahpahaman yang terselesaikan diakhiri dengan kecupan
. pa kabar Ya?
wuiiiihhh…semakin bijak menghadapi permasalahan..seneng deh dengernya…
pakabar mbak cahaya dan masnya..?
salam, ^_^
hmmm..be9itulah..
kedewasaan sikap dislah satu pihak meman9 pentin9,dan men9alah bukan berarti kalah kan ya?
demi kebaikan..
jadi belajar banyak neeh ma yaya,waT bekal nanti
Tua sudah pasti…dewasa itu pilihan…jadi belajarlah selalu untuk menjadi dewasa….dalam sikap dan perbuatan..mangstab bos…:)
http;//sendit.wordpress.com
itu dia yg namanya proses ay…penyesuaian dan kompromi
sip, yg penting rukun & sehat terus ya..
pagi sahabat!
i miss u
pa cabar?
salam hangat selalu
komunikasi dan kemengertian ya, artikelnya sejuk..
co cwiit darling..
kalo dah waktunya, tar gue tolong diajarin ya hehehe..
wah wah… manthap (^_^) memang benar besi itu menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya
nice share ya’
>> halo mas…yuk saling menajamkan
kangen lama gak nulis nich lama gak maen ke tempat mas kocu gimana ya kabar lex???
Saling pengertian dan menghargai akan berbuah kebaikan….
>> setuju mas han…
halo mas lama tak sua ya??
masih suka jalan-jalan???
i miss u sahabat
gimana cabar?
semangat ok
salam hangat selalu
>> kabar baik mas…selalu semangat
salam hangat kembali
>>
juga mbak
berkunjung lg neh mbak..pakabar???
salam,
>> Halo Mas didien…kabar baik. Maaf ya lama tak berkunjung
Mas dien apa kabar?
kunjungan siang..
salam kenal…