Pagi yang tidak begitu cerah, gerimis menghalangi matahari untuk menunjukkan keindahannya. Saat itu aku perjalanan menuju sekolah. Sebagai anak mandiri, aku berangkat sekolah naik sepeda sendiri. Kira-kira 500 meter dari rumah, aku berhenti mengkayuh sepedaku. Aku tidak tau apa yang aku lakukan, tapi seperti ada kekuatan yang menahan untuk melanjutkan perjalananku. Seingatku, semalam hujan deras mungkin diiringi angin kencang. Ini dikuatkan dengan adanya kubangan air hujan, dan cabang pohon yang tergeletak di tanah sebagai bukti keganasan angin semalam.
Waktu itu, masih banyak jalan yang rusak. Banyak lubang-lubang menghiasi jalan.
Aku terhenti untuk mengamati seseorang, kakek tua yang mengenakan celana pendek warna cokelat dengan atasan kemeja cokelat kekuning-kuningan, menurutku dulu warnanya putih. Beliau adalah simbah penjual bakso. Di daerahku biasa disebut bakso ojek. Bakso tanpa kuah yang dinikmati dengan saos atau saos sambal, disebut bakso ojek karena mungkin penjualnya berkeliling naik sepeda.
Beliau terduduk dipinggir jalan aspal berlubang, yang penuh dengan air hujan. Beliau mengambili satu per satu dagangannya, mencoba meneliti apakah masih ada yang layak jual untuk dimakan. Aku tidak begitu jelas melihat wajah sang kakek, mungkin karena tempatku yang agak jauh. Tapi tampak olehku aliran darah segar dari kaki dan tangannya. Aku pikir karena licin beliau tergelincir dan terjatuh, apalagi sepeda tua yang beliau naiki sepertinya sudah dalam kondisi parah dan harus segera dipensiunkan. Sesaat aku mengamati tidak ada yang membantu beliau, jatuh, bangkit, memeriksa dagangannya dan segera dia membalik arah, pulang!!! Semuanya terjadi begitu cepat namun sangat jelas terekam di memoryku. Sampai sekarang aku masih ingat mimik sang kakek saat kembali pulang, tempat beliau jatuh, apa yang beliau kenakan, warna tempat dagangan, sangat jelas. Namun, aku hanya melihat, dan melanjutkan perjalanan dengan berjuta pertanyaan…
Apa yang akan kakek itu lakukan?
Apakah beliau sedih?
Masih punyakah beliau uang?
Bagaimana kalau beliau mencarikan nafkah untuk cucunya?
Bisakah beliau membelikan susu?
Atau bisakah beliau membayar uang sekolah cucunya?
Bagaimana kalau nenek yang di rumah sedang sakit?
Aku terdiam dengan isi kepala yang berkecamuk, hati yang sakit serasa teriris-iris karena menahan tangis. Sampai di sekolah aku baru bisa menangis. Aku menangis sejadi-jadinya karena memikirkan kemungkinan yang terjadi. Semua teman-temanku bingung, ada yang berpikir aku dimarahi Mam sebelum berangkat sekolah, ada yang berpikir aku tidak diberi uang saku, ada juga yang bilang dogyku atau cattyku mati. Setelah aku tenang, aku baru bercerita tentang semua yang aku lihat. Banyak dari mereka yang menganggap itu hanya hal yang biasa, tidak perlu dibesar-besarkan atau ditangisi. Tapi ada juga yang ikut menangis saat aku menceritakannya.
Semua terjadi waktu aku masih SMP kelas 3, ingatanku disegarkan kembali tentang kejadian ini karena membaca sebuah cerita.
Disini aku melihat kebahagiaan Aa bisa menolong simbok, memberikan harapan, dan melihat senyum mengembang dari bibir simbok. Sedangkan aku, aku hanya melihat dan menangis. Semuanya yang aku lakukan, tidak berguna untuk simbah penjual bakso. Kasihan saja tidak cukup, menagis saja tidak akan membantu. Rasa kasihan dan derai air mata hanya teman atau malah hanya sebagai pendukung, yang paling penting adalah tindakan, sebuah perbuatan nyata. Sekarang, saatnya bertindak…
Banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita, banyak orang yang berada jauh berada di bawah kita keadaannya. Mari kita bertindak untuk menolong sesama.

